Tuhan Perlukah Dibela? (Review Buku)

Oleh: Ahmad Baily*
Buku yang ditulis KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ini mempunyai judul “Tuhan Tidak Perlu Dibela”, diterbitkan oleh LkiS pada 1999. Ketika orang melihat sampulnya tak jarang mereka akan heran, sebenarnya apa isi yang terkandung dalam buku ini. Judul tersebut saya kira cukup bagus untuk membuat orang penasaran akan isi dari buku tersebut. “Tuhan Tidak Perlu Dibela” merupakan kumpulan dari kolom dan artikel Gus Dur yang dimuat Tempo, pada kurun waktu 1970-an dan 1980-an yang memiliki ketebalan 312 halaman. Buku dibagi menjadi 3 bab, yakni bab pertama tentang Refleksi Kritis Pemikiran Islam, bab kedua tentang Intentitas Kebangsaan dan Kebudayaan serta bab yang terakhir tentang Demokrasi, Ideologi dan Politik.
Secara garis besar Gus Dur membahas tentang pengetahuan, pemikiran, dan gerakan yang ditampilkan oleh komunitas muslim yang saat itu lebih senang menampilkan sosok sektarianisme. Kalau dilihat dari tiga bab utama tadi, tercerminlah sikap atau uneg-uneg Gus Dur untuk mengedepankan semangat kebersamaan, keadilan, dan kemanusiaan serta demokratisasi dalam menyikapi berbagai perkembangan dalam kehidupan sosial di Indonesia.
Selain itu beliau mengajak kita untuk menampilkan sikap arif dalam hidup untuk tidak banyak mencela pemahaman agama orang lain, dalam artikelnya dengan judul Tuhan Tidak Perlu Dibela, yakni “Allah itu Maha Besar. Ia tidak perlu memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada. Apa yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya.” (hlm 67)
Didalam review kali ini, saya akan membahas tiga poin yang mewakili artikel-artikel didalam buku ini. Pertama, saya akan membahas pendapat Gus Dur tentang negara Islam. Kedua, tentang keadaan Islam di negeri ini. Ketiga, tentang artikel dengan judul Tuhan Tidak Perlu Dibela sekaligus yang menjadi judul buku ini. Yang pertama, sampai saat ini Islam mengalami perubahan-perubahan besar dalam sejarahnya. Bukan ajarannya, melainkan penampilan kesejarahannya. Begitu banyak perkembangan yang terjadi. Sekarang ada sekian republik dan sekian kerajaan mengajukan klaim sebagai negara Islam, sekuler dll.
Dalam wacana negara Islam Gus Dur menolak wacana tesebut, menolak menjadikan Islam sebagai dasar negara. Sikap ini dilandasi dengan pandangan bahwa Islam sebagai jalan hidup tidak memiliki konsep jelas tentang negara. Dalam tulisannya yang berjudul ISLAM Punyakah Konsep Kenegaraan?, Gus Dur menulis apabila masih ada kesulitan akibat perbedaan pemahaman mengenai apa yang dimaksud konsep itu, misal apakah yang dimaksud dengan ‘pandangan Islam tentang negara’ hanya menyangkut nilai-nilai dasar yang melandasi berdirinya sebuah negara? Atau norma-norma formal yang mengatur kehidupan didalamnya? Ataukah gabungan dari ketiga – tiganya maka selama tidak ada kejelasan tentang konsep tersebut, sebenarnya sia-sia saja diajukan klaim bahwa Islam memiliki konsep kenegaraan.
Kedua, ketika kita melihat diluar sana mulai terjadinya gerakan pembaruan yang bermacam-macam. Pembaruan demi pembaruan dilancarkan, semuanya mengajukan klaim memperbaiki fiqh dan menegakkan hukum agama. di Indonesia sendiri Islam sudah mulai mengalami perubahan baik dari segi bangunan, hukum agama, accecoris yang menunjukkan religius inividu maupun bahasa. Masjid yang beratap genteng, yang sarat dengan simbolisasi lokalnya sendiri mulai berubah menjadi kubah. Budaya Walisongo yang serba Jawa, saudati Aceh didesak kepinggiran oleh Qashidah, musik Gambus. Bahkan ikat kepala lokal yaitu udeng – udeng harus mengalah pada sorban putih-putih yang menjadi ciri khas orang Arab. Adanya beberapa kelompok yang melakukan perubahan dalam memanggil saudaranya dengan ukhti, akhi yang padahal dulu cukup dengan kang, mbakyu juga bisa. Dahulu dengan guru atau kyai sekarang menjadi ustadz atau syaikh.
Hal – hal tesebut merupakan pertanda kalau ciri khas Islam Indonesia yang mulai tecabut dari lokalitasnya dan bergeser dengan ciri khas Arab. Lalu dalam keadaan demikian tidakkah kehidupan kaum muslimin tercabut dari akar-akar budaya lokal? Tidakkah ini terlepas dari kesejarahan di masing-masing tempat? Dalam hal ini Gus Dur beranggapan bahwa kesemua kenyataan diatas membawakan tuntutan untuk membalik arus perjalanan Islam di negeri ini, dari formalisme berbentuk Arabisasi total menjadi kesadaran akan perlunya dipupuk kembali akar-akar budaya lokal dan kerang sejarah, dalam mengembangkan kehidupan beragama Islam di negeri ini.
Gus Dur menggunakan istilah “Pribumisasi Islam” karena kesulitan mencari kata lain. “domestik Islam” terasa berbau politik, yaitu penijnakan sikap. Yang dipribumisasikan adalah manifestasi kehidupan Islam belaka. Bukan ajaran yang menyangkut inti keimanan dan peribadatan formalnya. Tidak diperlukan Quran Batak dan hadist Jawa. Islam tetap Islam, dimana saja berada. Akan tetapi tidak berarti semua harus disamakan bentuk luarnya.
Dan yang terakhir yaitu dari artikel selanjutnya yang berjudul Tuhan Tidak Perlu Dibela ini Gus Dur menulis tentang kisah seorang sarjana yang namanya di inisialkan x yang baru menamatkan studi diluar negeri pulang ke tanah air yang terkejut dengan keadaan di tanah airnya yang berbeda dengan di negara dimana tempat ia studi. Sarjana X ini galau karena ia mampu memahami permasalahan yang mana dia mampu menerangkan dari sudut ilmiah namun ia tidak mampu menjawab bagaimana kaum muslimin menyelesaikan permasalahan.

Gus Dur menulis menulis uraiannya tentang ketidak perluan kita membela Tuhan “Allah itu Maha Besar. Ia tidak perlu memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada. Apa yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya.” Lanjutnya dalam artikel itu: “bila engkau menganggap Allah ada karena engkau merumuskannya, hakikatnya engkau menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau ia “menyulitkan kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya” (hlm 67).
Dalam hal ini Gus Dur mengutip Al-Hujwiri yang merupakan seorang sufi dari Persia. Kutipan tersebut juga tertulis di halaman sampul buku bagian belakang. Dalam menanggapi permaslahan yang ada informasi dan ekspresi diri yang dianggap merugikan Islam sebenarnya tidak perlu dilayani. Cukup diimbangi dengan informasi dan ekspresi diri yang konstruktif. Kalau gawat cukup dengan jawaban yang mendudukkan persoalan secara dewasa dan biasa-biasa saja. Tidak perlu diacari-cari.
Dari review diatas maka dapat saya simpulkan bahawa secara garis besar buku ini megajak kita untuk menengok dan membahas tentang pengetahuan, pemikiran, dan gerakan yang ditampilkan oleh komunitas Muslim yang saat itu lebih senang menampilkan sosok sektarianisme dan juga mencerminkan sikap atau uneg-uneg Gus Dur untuk mengedepankan semangat kebersamaan, keadilan, dan kemanusiaan serta demokratisasi dalam menyikapi berbagai perkembangan dalam kehidupan sosial di Indonesia. Selain itu buku ini juga mengajak kita untuk menampilkan sikap arif dalam hidup untuk tidak banyak mencela pemahaman agama orang lain.
*) Penulis ialah GusDurian Yogyakarta, alumni Kelas Pemikiran Gus Dur angkatan ke dua.
Sumber : http://santrigusdur.com

0 komentar:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com