Agar Islam Nusantara Diterima Generasi Milenial, Ini Caranya

Tangerang Selatan, NU Online Ada yang menilai Islam Nusantara sebagai model ekspresi keislaman yang kuno dan jadul. Mengapa? Karena biasanya Islam Nusantara selalu diasosiasikan dengan peci hitam, sarung, orang-orang tua, tidak kekinian,

Mengenal KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Abdurrahman Wahid lahir pada hari ke-4 dan bulan ke-8 kalender Islam tahun 1940 di Denanyar Jombang, Jawa Timur dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Terdapat kepercayaan bahwa ia lahir tanggal 4 Agustus

Gerhana Bulan Total Terjadi 28 Juli, Ini Data Lembaga Falakiyah PBNU

Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengumumkan bahwa peristiwa gerhana bulan total (GBT) kembali bisa disaksiakan pada Sabtu, 28 Juli 2017. Fenomena alam ini terjadi mulai dini hari melewati beberapa fase.

Buruk Muka Regulasi Lima Hari Sekolah

Polemik soal belajar delapan jam sehari atau full day school yang diformat dalam bentuk Lima Hari Sekolah masih terus muncul di tengah-tengah masyarakat.

Meng-Indonesiakan Manusia Indonesia

Keanekaragaaman (pluralisme) budaya dan agama dalam sebuah bangsa adalah hal yang niscaya,

Gerhana Bulan Total Terjadi 28 Juli, Ini Data Lembaga Falakiyah PBNU

Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengumumkan bahwa peristiwa gerhana bulan total (GBT) kembali bisa disaksiakan pada Sabtu, 28 Juli 2017. Fenomena alam ini terjadi mulai dini hari melewati beberapa fase.

Awal gerhana bulan penumbra berlangsung pada 00:14:49 WIB, awal gerhana bulan sebagian pada 01:24:27 WIB, dan awal GBT pada 02:30:15 WIB. Puncak GBT atau fase pertengahan terjadi pada pukul 03:21:43 WIB, akhir GBT pada 04:13:12 WIB, akhir gerhana bulan sebagian pada 05:19:00 WIB, dan akhir gerhana bulan penumbra pada 06:28:37 WIB.

Melalui surat resmi bernomor 28/LF-PBNU/VIII/2018 yang ditujukan kepada seluruh kepengurusan NU di tingkat wilayah dan cabang di Indonesia, terkait peristiwa gerhana ini Lembaga Falakiyah PBNU mengimbau umat Islam untuk menunaikan amalan-amalan sesuai dengan ketentuan syariat Islam.

Imam al-Ghazali dalam risalahnya berjudul Al-Adab fid Din menganjurkan umat Islam untuk memanfaatkan fenomena gerhana bulan alias khusuful qamar untuk memupuk rasa takut kepada Allah, menampakkan ketakjuban, bertobat, juga shalat.

Peristiwa serupa juga terjadi pada Rabu, 31 Januari 2018 bertepatan dengan hari lahir NU yang ke-92. PBNU saat itu juga menyerukan kepada umat Islam, khususnya warga NU, untuk memperbanyak ibadah dan wahana perenungan akan tanda-tanda kebesaran Allah. (Mahbib)

Sumber : nu.or.id

Agar Islam Nusantara Diterima Generasi Milenial, Ini Caranya

Tangerang Selatan, NU Online
Ada yang menilai Islam Nusantara sebagai model ekspresi keislaman yang kuno dan jadul. Mengapa? Karena biasanya Islam Nusantara selalu diasosiasikan dengan peci hitam, sarung, orang-orang tua, tidak kekinian, dan lain sebagainya. Lalu, bagaimana agar Islam Nusantara bisa diterima kaum muda atau generasi milenial? 

Direktur Indonesian Muslim Crisis Center (IMCC) Robi Sugara menyebutkan, setidaknya ada dua hal yang seharusnya dilakukan agar Islam Nusantara bisa diterima di kalangan anak muda atau generasi milenial. Pertama, melalui pendidikan. Robi menjelaskan, Islam Nusantara bisa ‘dipasarkan’ dan diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan sehingga generasi muda paham akan esensi dari Islam Nusantara. 

“Kedua, mempengaruhi kelompok menengah atas? Siapa yang bisa mempengaruhi? Artis atau public figure,” kata Robi di Sekretariat Islam Nusantara (INC), Tangerang Selatan, Sabtu (14/7).

Jika Islam Nusantara ‘dibawakan’ oleh orang yang menjadi role model generasi muda saat ini, maka tidak mustahil Islam Nusantara bisa diterima generasi milenial. Karena apapun yang diusung seorang role model, biasanya diikuti pengikutnya.   

Islam Nusantara, sebuah solusi alternatif

Robi Sugara mengemukakan, Islam Nusantara bisa menjadi solusi alternatif terhadap krisis identitas yang tengah menjangkiti Muslim di seluruh dunia.

“Di tengah krisis ada identitas baru, pasti anginnya kencang,” kata Robi.

Menurutnya, saat ini umat Islam di seluruh dunia sedang mengalami krisis identitas. Mengapa? Dahulu umat Islam pernah menjadi umat yang unggul –dalam berbagai bidang- atas umat-umat lainnya. Namun saat itu, umat Islam menjadi tertinggal dari umat-umat lainnya. 

“Kita terombang-ambing. Ada yang ingin mengembalikan Islam seperti dulu,” tambahnya. 

Salah satunya adalah dengan mengusung ide khilafah. Bagi Robi, mereka yang menginginkan sistem khilafah berpandangan bahwa dulu umat Islam maju dan unggul karena menerapkan khilafah. Padahal, Robi menuturkan, khilafah tidaklah sesederhana sebagaimana yang dibayangkan. 

Sebagian yang lain, lanjut Robi, ada kelompok Islam yang menggunakan kekerasan untuk mengejar ketertinggalan dari umat lainnya. “Mereka tidak mampu bersaing. Mereka melakukan kekerasan dan akhirnya malah mencoreng wajah Islam,” terangnya. (Muchlishon)

Sumber Nu.or.id

Pemerintah Arab Saudi Gandeng NU Kembangkan Islam Moderat

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj bersama Duta Besar (Dubes) Kerajaan Arab Saudi, Usamah bin Muhammad mengadakan pertemuan, Selasa (14/11) di rumah Dinas Kedubes Arab Saudi Jakarta.
Komitmen Kerajaan Arab Saudi untuk mengembangkan Islam moderat ditindaklanjuti oleh Usamah dengan menggandeng Nahdlatul Ulama (NU).
Dalam pertemuan tersebut, Kiai Said menyampaikan komitmen Kerajaan Arab Saudi dalam mengembangkan Islam moderat dapat dimulai dengan menghormati dan memberikan jaminan Kebebasan bermadzhab kepada seluruh umat Islam dunia yang melaksanakan haji dan umrah di tanah haram.

Kepada Kiai Said, Usamah bin Muhammad menyampaikan komitmen Kerajaan Arab Saud dalam mengembangkan Islam moderat. 
"Yang lalu biarlah berlalu. Mari kita bekerja sama mengembangkan Islam moderat," kata Usamah.

Sementara itu, Kiai Said mengatakan kepada Dubes Arab Saudi bahwa dirinya tidak mempersoalkan Pemerintah Arab Saudi.
“Yang saya tentang selama ini Wahabi alumni Arab Saudi yang mensyirik-syirikkan, mengkafir kafirkan, membid'ah-bid'ahkan muslim Indonesia," tegas Kiai Said.
Salah seorang Ketua PBNU H Muhammad Sulton Fatoni mengatakan, kira-kira tujuh tahun lalu Kiai Said memulai bersikap tegas dan kukuh menentang dan melawan keras Wahabi di Indonesia. 

“Selama itu pula PBNU menutup komunikasi dengan Kedubes Arab Saudi,” jelas Sulton.
Hal itu, sambungnya, bermula dari peristiwa tokoh utama Wahabi berkata dan bersikap sombong dan congkak terhadap beberapa kiai saat acara resmi. Kiai Said tentu sangat geram namun masih bisa menahan diri.
“Kini ada indikator situasi di Arab Saudi membaik. Mereka bertekad mengembangkan Islam moderat. PBNU pun kembali membuka komunikasi dengan Kedubes Arab Saudi,” terangnya. 

Islam moderat sudah lama dikembangkan oleh NU ke seluruh dunia untuk membangun perdamaian. Dalam hal ini, Kerajaan Arab Saudi mengakui reputasi NU sehingga perlu menggandengnya untuk mewujudkan misi tersebut secara global. (Fathoni)

Sumber : Nu.or.id
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com