Cium Tangan kyai Ciri-Ciri Santri

Bpk Presiden Joko Widodo sa'at mencium tangan Kiai Sholeh Qasim, beliau adalah seorang kyai, ulama, pejuang dan veteran yang pernah ikut ber perang untuk memerdeka kan Negara kesatuan Republik Indonesia.

Mengenal KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Abdurrahman Wahid lahir pada hari ke-4 dan bulan ke-8 kalender Islam tahun 1940 di Denanyar Jombang, Jawa Timur dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Terdapat kepercayaan bahwa ia lahir tanggal 4 Agustus

Hukum Menghajikan Orang Tua Oleh Anak Yang Belum Haji

Menghajikan kedua orang tua tentu merupakan sebuah amal kebajikan dan merupakan salah satu bukti bakti anak kepada keduanya.

Buruk Muka Regulasi Lima Hari Sekolah

Polemik soal belajar delapan jam sehari atau full day school yang diformat dalam bentuk Lima Hari Sekolah masih terus muncul di tengah-tengah masyarakat.

Meng-Indonesiakan Manusia Indonesia

Keanekaragaaman (pluralisme) budaya dan agama dalam sebuah bangsa adalah hal yang niscaya,

Cium Tangan Kyai Ciri - Ciri Santri

Bpk Presiden Joko Widodo sa'at mencium tangan Kiai Sholeh Qasim, beliau adalah seorang kyai, ulama, pejuang dan veteran yang pernah ikut ber perang untuk memerdeka kan Negara kesatuan Republik Indonesia.

Untuk masyakat NU, terutama wilayah Jawa Timur tidak asing lagi siapa sosok Kiai Sholeh Qasim, ulama sepuh yang menjadi panutan umat muslim.

Beliau lahir di Sidoarjo Tahun 1930. Kiai Qosim juga adalah pengurus Pon-pes Bahauddin Al-Islami, Kiai Qosim sebagai Wakil Rois Syuriah PWNU Jawa Timur.

Pada sa'at memerdeka kan Indonesia, beliau sebagai anggota laskar Hizbullah pada tahun 1943 dalam pimpinan KH Masykur, yang berjuang pada tanggal 10 November di Surabaya.

Meski usia sudah tidak muda lagi yang kini ber umur 87 tahun, Kiai Qosim masih aktif memberikan tausiah kepada umat muslim. Beliau juga masih aktif memberikan tausiah di berbagai pengajian.

Tekad beliau berkobar ketika saudara - saudaranya yang terlebih dahulu bergabung dengan Barisan Hizbullah. Barisan Hizbullah dan Laskar Sabilillah adalah milisi para santri yang sangat kuat kala itu. Di takuti para Penjajah Belanda dan Jepang karena keberaniannya. Keberanian yang di bimbing para ulama.

Mengutip taushiyahnya pada peringatan Harlah NU ke-93 di Surabaya tahun  (2016), Kiai Sholeh memaparkan, ulama-ulama pesantren pada jaman itu adalah manusia-manusia luar biasa dalam soal ke’aliman dan karomahnya. Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Hasbullah, Syaikhona Kholil dll

Pada sa'at itu kiai - kiai pesantren berinisiatif mendirikan lembaga NU (Nahdatul Ulama)dan ikut serta untuk memerdeka kan Republik Indonesia. Mereka adalah min auliyaa-illah, kesayangan Allah. Jika ada yang macam-macam dengan NU (Nahdatul Ulama)dan Negara Republik Indonesia, Allah yang maha kuasa pasti tidak akan membiarkanya”, saut Kiai Sholeh, Wakil Rois Syuriah PWNU Jatim.

Sumber : Berbagai media

By : Aang Jalaludin

Hukum Menyanyikan Lagu Indonesia Raya



Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, lima tahun terakhir kampanye antihormat bendera merah putih dan pengharaman menyanyikan lagu Indonesia Raya muncul secara terang-terangan di media sosial. Sementara kita sudah lebih dari setengah abad melakukan penghormatan terhadap bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bagaimana sebenarnya agama Islam memandang masalah ini. Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Nuryamin/Tasikmalaya).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Secara naluriah setiap orang mencintai tanah airnya karena ia adalah manusia yang memiliki ikatan emosional dengan tanah kelahirannya tersebut. Ia bukan robot atau mesin-mesin industri yang tidak memiliki pengalaman sebagai manusia.

Luapan cinta tanah air itu diekspresikan dengan pelbagai macam cara. Salah satunya adalah mengikuti upacara hormat bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Lalu bagaimana dengan gugatan sejumlah orang dan kelompok tertentu yang mengampanyekan pengharaman terhadap penghormatan bendera merah putih dan pengharaman menyanyikan lagu Indonesia Raya?

Sebenarnya tidak ada dalil agama yang mengharamkan ekspresi cinta tanah air seperti hormat bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Hal ini disinggung oleh Syekh Wahbah Az-Zuhayli berikut ini.


وأقول: إن الأغاني الوطنية أو الداعية إلى فضيلة، أو جهاد، لا مانع منها، بشرط عدم الاختلاط، وستر أجزاء المرأة ما عدا الوجه والكفين. وأما الأغاني المحرضة على الرذيلة فلا شك في حرمتها، حتى عند القائلين بإباحة الغناء، وعلى التخصيص منكرات الإذاعة والتلفاز الكثيرة في وقتنا الحاضر.


Artinya, “Saya bisa mengatakan, ‘Lagu-lagu kebangsaan, atau lagu-lagu yang memotivasi anak bangsa pada kemuliaan atau semangat perjuangan, tidak ada larangan (dalam agama) dengan syarat tidak campur baur laki-perempuan, dan (syarat lain) tutup tubuh perempuan selain wajah dan telapak tangan.

Sedangkan lagu-lagu yang mendorong orang pada akhlak tercela, jelas diharamkan sekalipun menurut ulama yang menyatakan kemubahan lagu dan nyanyian, terutama sekali (lagu-lagu yang mengandung) kemunkaran seperti ditayangkan stasiun radio dan televisi di zaman kita sekarang ini,’” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, cetakan kedua, 1985 M/1305, Beirut, Darul Fikr, juz III, halaman 576).

Keterangan di atas jelas membedakan nyanyian kebangsaan dan campur-baurnya laki-perempuan dalam menyanyikannya. Menyanyikan lagu Indonesia Raya sendiri jelas tidak diharamkan. Pengharamannya terletak pada campur-baur laki-perempuan seperti orang berdesakan di pasar malam. Dengan kata lain, haramnya bukan karena menyanyinya, tetapi lebih pada ikhtilath-nya. Sedangkan dalam menyanyikan lagu Indonesia Raya orang tidak bercampur-baur seperti itu. Mereka berdiri teratur dalam barisan upacara yang rapi.

Memang kita harus mengakui bahwa negara-bangsa (nation-state) adalah fenomena zaman modern. Ia hadir baru beberapa abad belakangan ini karena pengaruh zaman industri modern dan juga kolonialisme. Karenanya masalah ini belum ada dan belum menjadi pembahasan di kalangan salafus saleh.

Meskipun ini adalah masalah baru seiring dengan negara-bangsa sebagai fenomena modern, kita tidak bisa memaksakan diri untuk menghukumi penghormatan bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan sebagai sesuatu yang haram karena memang tidak ada larangannya dalam agama. Pasalnya, kewajiban dan larangan agama sudah jelas. Sedangkan masalah penghormatan bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan merupakan bagian dari rahmat Allah SWT yang patut disyukuri seperti sabda Rasulullah SAW pada Hadits Ke-30 yang dikutip dari Kitab Al-Arba‘in Nawawiyah berikut ini.


قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم: إِنَّ اللهَ-تَعَالَى-فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا، وَحَدَّ حُدُودًا فَلاَ تَعْتَدُوهَا، وَنَهَى عَنْ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ مِنْ غَيْرِ نِسْيَانٍ لَهَا رَحْمَةً لَكُمْ فَلاَ تَبْحَثُوا عَنْهَا


Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh, Allah telah menentukan sejumlah kewajiban. Jangan kalian menyia-siakannya. Ia juga telah membuat sejumlah batasan. Jangan kalian melampaui batasan-Nya. Ia juga telah melarang beberapa hal. Jangan kalian melanggarnya. Ia mendiamkan sejumlah masalah, bukan karena lupa, tetapi karena kasih sayang-Nya kepada kalian. Oleh karena itu kalian jangan mempermasalahkannya,’” HR Daruquthni.

Dari pelbagai keterangan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa penghormatan bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya adalah mubah sebagai rahmat Allah SWT. Kita tidak memegang hak untuk mempersempit rahmat-Nya. Di samping itu penghormatan bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya bukan bentuk fanatik buta dan rasialis radikal (sauvinisme), tetapi ekspresi cinta tanah air sebagai fenomena modern atas rumah bersama mereka.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)


Sumber : Nu or id

Bagaimana Sikap Kita terhadap Para Wali dan Sufi Kontroversial-Nyeleneh?



Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, sepanjang sejarah Islam kita mengenal sejumlah tokoh-tokoh sufi yang pernyataannya tampak kontroversial sehingga memicu polemik di kalangan orang-orang sezamannya dan sepeninggalnya baik kalangan ulama maupun awam. Pertanyaan saya, sebagai orang awam apa sikap saya semestinya terhadap mereka itu? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Abdul Bari/Tegal).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Adalah benar bahwa kita mengenal guru-guru yang pernyataan atau sebagian perkataannya tampak kontroversial yaitu Abu Yazid, Al-Hallaj, sebagian tulisan Imam Al-Ghazali, Ibnul Arabi, Abdul Karim Al-Jili, Rumi, Hamzah Fansuri, Syekh Siti Jenar, Syekh Samman, Syekh Mutamakkin, atau orang-orang saleh lainnya.

Beberapa kalimat ini mungkin menjadi “masalah”, yaitu “subhâni”, “anal haq”, “mâ fil jubbah illallâh”. Berikut ini kami kutipkan syair Hamzah Fansuri. 

"Ombaknya zahir lautnya batin//Keduanya wahid tiada berlain
Menjadi tawfan hujan dan angin//Wahid-nya juga harakat dan sakin," (Lihat edisi teks Drewes & Brakel, The Poems of Hamzah Fansoeri, 1986: 126).

Atau 
"Kuntu kanzan mulanya nyata//Hakikat ombak di sana ada
Adanya itu tiada bernama//Majnun dan Layla ada di sana," (Lihat edisi teks Drewes & Brakel, The Poems of Hamzah Fansoeri,  1986: 128).

Atau yang cukup populer yaitu,
"Hamzah Fansuri di dalam Mekkah//Mencari Tuhan di Baitul Ka‘bah
Dari Barus ke Kudus terlalu payah//Akhirnya ditemukan pada di dalam rumah."

Menurut hemat kami, sebagai orang awam kita sebaiknya tidak perlu mengambil posisi dukungan atau berseberangan atas pernyataan “kontroversial” para sufi itu. Lain soal untuk kepentingan ilmiah. Kepentingan ilmiah harus terus berjalan. Untuk kepentingan ilmiah bisa saja kita mengkaji pernyataan dan ekspresi verbal mereka menurut tatacara ilmiah.

Tetapi sebagai orang yang datang kemudian, sebaiknya kita menghormati mereka sebagai guru spiritual atau sebagai manusia dengan penjelajahan luar biasa dalam “menemukan” Allah sang pencipta. Hal ini menunjukkan rasa rindu mereka terhadap Zat hakiki.

Hemat kami, penghormatan terhadap mereka sebaiknya yang lebih ditonjolkan. Hal ini ditunjukkan oleh Imam An-Nawawi ketika ditanya pandangannya soal paham kontroversial Ibnul Arabi yang hidup seabad sebelumnya.


وأما احترام الماضى فالمراد من تقدم من الصحابة والتابعين والأولياء والصالحين والعلماء العاملين واحترامهم ألا يذكروا إلا بإحسان وأن يلتمس لهم أحسن المذاهب ويرحم الله النواوى لما سئل عن ابن العربى الحاتمى فقال الكلام كلام صوفى تلك أمة قد خلت لها ما كسبت ولكم ما كسبتم ولا تسئلون عما كانوا يعملون ومن احترامهم الاستغفار والترضى عنهم قال تعالى وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ


Artinya, “Adapun bentuk penghormatan (kita) terhadap orang terdahulu–mereka yang  dimaksud adalah para sahabat rasul, tabi‘in, para wali, orang-orang saleh, dan ulama–adalah hanya menyebut kebaikan mereka dan mengambil madzhab (jalan atau pandangan) terbaik dari mereka. Imam An-Nawawi–Allah yarhamuh–ketika ditanya sikapnya terhadap pandangan Ibnul Arabi (yang wafat lebih dulu) menjawab dengan bijak, ‘Perkataan (Ibnul Arabi) adalah perkataan kalangan sufi. Ia termasuk umat terdahulu. Mereka akan menerima jerih payah mereka. Begitu juga kalian. Kalian akan menerima jerih payah kalian. Kalian takkan diminta pertanggungjawaban atas jerih payah mereka.’ Salah satu bentuk penghormatan (kita) untuk mereka adalah permohonan ampunan dan ridha Allah untuk mereka. Allah berfirman, ‘Orang-orang beriman yang datang sepeninggal mereka berdoa, ‘Tuhan kami, ampunilah kami dan orang-orang beriman yang telah mendahului kami,’’” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah Al-Hasani, Al-Futuhatul Ilahiyyah fi Syarhil Mabahitsil Ashliyyah, Beirut, Darul Fikr, tanpa tahun, halaman 263).

Saran kami, kita hendaknya berhati-hati sekali dalam membahas kembali karya atau pernyataan kontroversial mereka agar kita tidak menaruh su’uzhan terhadap orang-orang mulia yang telah mendahului kita.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)

Sumber : nu or id
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com